Showing posts with label FanFic. Show all posts
Showing posts with label FanFic. Show all posts

Mar 10, 2011

[FF] Not A Love Story

Title : Not A Love Story

Author : Morimoto Annisa XD

Casts : Hey! Say! JUMP’s Morimoto Ryutaro, AKB48’s Manami Oku, Morimoto Shintaro

Genre : General

Rating : T (Very safe)

Length : ± 1777 words

Disclaimer : I just own the story. The casts are belongs to theirselves.

A/N : Ide cerita fanfic ini terilhami gara-gara berita ini. Meskipun masih belum jelas faktanya apakah mereka bener-bener bakal sekelas di Horikoshi atau enggak (mari kita tunggu sampai bulan April tiba). Tapi kalau mereka beneran bakal sekelas, uwaaaa, I will be RyuuMaa shipper officially =] *digampar fansu-nya Ryuu & Maa-chan* PISSU~! \^o^/

* * *

Not a Love Story

“Kalau begitu, bertambah satu lagi anggota Hey! Say! JUMP di Horikoshi, eh?”

Ryutaro tertawa. Dirinya kini sedang berada di ruang kepala sekolah Horikoshi untuk survey – yah, anggap saja begitu – sekolah yang akan ia masuki saat bulan April nanti. Walaupun selain Horikoshi, Ryutaro masih mempunyai pilihan beberapa sekolah lagi yang sedang dipertimbangkannya.

“Yabu, Yaotome, Arioka, Nakajima, Yamada, dan Chinen telah dikenal sebagai siswa-siswa yang selalu berperilaku baik. Kau harus mengikuti jejak mereka, atau paling tidak, jangan menghancurkan imej mereka selama ini dengan perilakumu.”

Ryutaro terdiam. Menghitung sesuatu. Sepertinya ada yang kurang. Ada yang belum disebutkan.

Seakan mengerti alasan Ryutaro yag tiba-tiba terdiam, kepala sekolah itu menyambung ucapannya, “Yah, kalau tentang Takaki, kita tidak usah membicarakannya. Kau pasti mengerti maksudku kan?”

Ryutaro tersenyum tipis. Ia sangat paham soal itu. Setelah basa-basi sebentar, ia pamit untuk pulang.

* * *

Ryutaro berjalan menyusuri lorong Horikoshi Gakuen yang panjang. Suasana sangat sepi, tentu saja, sebab saat itu sedang hari libur. Ryutaro memandang lurus ke depan. Matanya menangkap sosok seorang gadis yang tampak kebingungan, seperti sedang mencari sesuatu.

“Masa bodo lah,” pikirnya tak acuh.

Ryutaro meneruskan langkahnya sambil memandangi bangunan Horikoshi yang sangat megah dan luas. Sampai ia menyadari bahwa ia semakin mendekati gadis yang tengah kebingungan tadi. Tanpa sadar, matanya mulai memerhatikan gadis itu. Tampaknya gadis itu seumuran dengannya. Tubuh gadis itu lebih pendek daripada Ryutaro, tentu saja. Kulitnya putih. Matanya bulat besar. Wajahnya kebarat-baratan, khas seorang gadis blasteran. Rambut kecoklatannya panjang sepunggung, agak ikal di bagian bawahnya. Apabila disingkat dalam tiga kata, deskripsi yang tepat untuk gadis itu adalah : seperti boneka Barbie. Ryutaro berpikir sebentar. Ia merasa familiar dengan wajah gadis itu. Ia yakin kalau ia pernah melihat gadis itu sebelumnya, tapi dimana ya?

Ryutaro masih asyik berpikir saat gadis itu menatap heran ke arahnya. Mungkin ia merasa diperhatikan sejak tadi.

“Anoo…”

Ryutaro tersentak saat mendengar suara gadis di depannya ini.

“Eh? Hai? jawabnya terkejut. Kau berbicara padaku?”

Gadis itu mengangguk. “Anoo, ruang kepala sekolah dimana ya?” tanyanya.

“Oh. Disana. Dari sini lurus saja, lalu belok kiri. Letaknya ada di ujung lorong, sebelah kanan,” jelas Ryutaro.

“Ah. Wakarimashita. Arigatou gozaimashita,” gadis itu berkata sambil sedikit membungkukkan badannya.

“Douitashimashite.” Ryutaro ikut membungkukkan badan.

Kemudian ia berbalik dan meneruskan langkahnya setelah gadis itu pergi menjauh. Ryutaro masih berpikir, “Siapa ya dia?” gumamnya.

* * *

Ryutaro sedang duduk santai di atas tempat tidurnya. Tangan kanannya yang memegang remote TV sibuk memencet-mencet tombol yang ada disana. Mengganti-ganti channel. Tiba-tiba seorang tamu tak diundang datang, membuka pintu kamarnya.

“Nii-chan?”

“Mau apa kau kesini, Shin?” tanya Ryutaro sedikit ketus. Adalah kejadian yang sangat biasa apabila Shintaro datang saat Ryutaro sedang asyik menonton TV.

“Aku cuma mau mengembalikan manga milikmu kok,” jawab Shin sambil menuju lemari buku besar di kamar Ryutaro dan meletakkan manga disana.

“Sudah keluar sana!” usir Ryutaro.

Shintaro tidak menuruti perintah kakaknya. Ia malah duduk dengan sangtainya di pinggir tempat tidur Ryutaro. Tangannya dengan cepat merebut remote TV dari tangan Ryutaro.

Ryutaro membiarkan adiknya mengganti channel TV. Ia sedang tidak mood untuk bertengkar. Tanpa sengaja matanya tertumbuk pada layar televisi yang sedang menayangkan sebuah PV milik girlband AKB48. Ryutaro melihat gadis yang menanyakan ruang kepala sekolah di Horikoshi tadi siang disana.

“Ternyata gadis itu salah satu anggota AKB48. Pantas aku tidak asing dengan wajahnya,” pikir Ryutaro.

Ryutaro yang penasaran, nekat bertanya kepada adiknya. “Hei Shin. Apa kau kenal dengan gadis itu?”

“Eh? Yang mana?”

“Itu, yang rambutnya coklat panjang, matanya besar, seperti boneka Barbie,” jelas Ryutaro.

“Tidak, aku tidak hafal dengan nama anggota AKB48. Habis banyak sekali sih,” jawab Shin sambil memperhatikan gadis yang ditunjuk oleh Ryutaro tadi. “Memangnya kenapa? Nii-han naksir ya?” godanya.

“Tidak! Siapa bilang? Dasar anak kecil, tahu apa kau? Sudah sana keluar! Aku mau tidur!” usir Ryutaro sambil memaksa Shin keluar dari kamarnya.

Sepeninggal Shin, Ryutaro yang masih penasaran mengambil laptopya (emangnya dia punya? lol) di meja belajar. Tak lama kemudian ia sudah asyik mencari tahu tentang gadis itu di website AKB48. (wah kok tau aja ya dia? – iyalah, wong barusan googling dulu – XD)

Akhirnya ia mendapatkan satu nama. Manami Oku.

“Oh, jadi itu namanya?” gumamnya.

Ryutaro masih asyik berseluncur di dunia maya sampai akhirnya ia menemukan pesan Manami yang berisi tentang rencana pengunduran dirinya dari AKB48.

“Eeh? Dia ingin keluar dari AKB48? Kenapa? Eh tunggu. Kalau ia keluar dari AKB48, apa ia masih bisa bersekolah di Horikoshi? Lalu untuk apa tadi dia ingin menemui kepala sekolah?” Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Ryutaro.

* * *

Ryutaro menendang kerikil kecil di dekat kakinya dengan pelan. JUMP sedang tidak ada kegiatan untuk hari ini. Jadi ia hanya pergi ke sekolah di pagi hari dan mempunyai waktu luang untuk berjalan-jalan di sore hari sepulang sekolah. Ryutaro sengaja memilih jalan yang agak jauh dan memutar untuk sampai ke rumahnya. Sudah lama ia tidak memiliki waktu luang untuk bersantai seperti ini. Saat melewati taman bermain yang anehnya sangat sepi, Ryutaro menghentikan langkahnya. Matanya menangkap sosok seorang gadis yang sedang duduk di ayunan. Gadis itu, adalah gadis yang ditemuinya di Horikoshi Gakuen tempo hari. Manami Oku.

Entah angin apa yang menggerakkan kakinya, tiba-tiba saja ia sudah berdiri di hadapan gadis itu. Gadis itu kini mengangkat kepalanya yang semula menunduk ke bawah.

“Eh? Kau? Kok ada disini?” tanya Manami bingung.

“Sekolahku ada di sekitar wilayah ini. Justru seharusnya aku yang tanya, kenapa kau ada disini? Sedang apa?” Ryutaro balik bertanya.

“Aku hanya berjalan-jalan. Lalu tiba-tiba aku ingin main ayunan, jadi berhenti sebentar disini.” jawab Manami sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.

Ryutaro terdiam, bingung untuk melanjutkan percakapan. Tidak biasanya ia berbicara berdua saja dengan seorang gadis, apalagi di tempat yang sepi seperti ini. Tapi Ryutaro bisa tenang, karena ia tidak perlu takut ada paparazzi ataupun fans yang memergokinya sedang bersama salah satu anggota AKB48 disini. Kalau ada yang melihat mereka berdua lalu menyebarkan gossip yang tidak benar, apa kata Johnny-san nanti?

“Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan secara resmi. Hajimemashite, atashi wa Manami Oku desu,” kata Manami memperkenalkan diri.

“Ah, iya. Hajimemashite, boku wa…”

Belum sempat Ryutaro menyebutkan namanya, gadis di hadapannya telah melanjutkan kalimatnya, “Morimoto Ryutaro. Anggota termuda di Hey! Say! JUMP. Ne?”

Mata Ryutaro membesar, kaget. “Kau tahu siapa aku?”

“Tentu saja, siapa yang tak mengenalmu?” balas Manami dengan nada seolah mengejek.

“Seseorang di luar sana mungkin, siapa tahu? Aku tidak se-terkenal itu,” kata Ryutaro merendah.

Hening sebentar. Keduanya sama-sama diam.

“Kau ingin bersekolah Horikoshi ya?” celetuk Manami tiba-tiba.

“Ne, mungkin. Horikoshi salah satu pilihanku. Tapi aku masih memertimbangkan sekolah lain. Kau sendiri?”

“Tadinya sih begitu…” Manami menggantungkan kalimatnya. “Tapi karena aku memutuskan untuk keluar dari AKB48, mungkin aku tidak jadi sekolah disana.”

“EEH? Doushite?” Ryutaro terkejut. Ia sudah tahu Manami ingin mengundurkan diri dari AKB48. Tapi kalau Manami tidak jadi bersekolah di Horikoshi, itu adalah kabar yang baru baginya.

“Kalau aku keluar dari AKB48, statusku bukan selebritis lagi, bukan?"

“Lalu kenapa kau ingin mengundurkan diri dari AKB48?” tanya Ryutaro ingin tahu. Sekejap kemudian ia sadar kalau pertanyaannya sangat tidak sopan, namun sudah terlambat untuk menarik kata-katanya.

“Sebenarnya sudah lama aku memiirkan hal itu. Jujur saja, aku ingin fokus ke urusan sekolahku. Aku masih muda, jalanku masih sangat panjang. Namun, kalau nanti ada kesempatan kedua untukku, aku ingin sekali lagi debut sebagai anggota girlband lagi.” Manami tersenyum saat menjelaskannya.

Ryutaro mengangguk-anggukan kepalanya. “Sou ka. Demo, aku pikir kau masih bisa bersekolah di Horikoshi kok walaupun kau sudah keluar dari AKB48. Yah, itu kalau kau memang sudah bertekad untuk sekolah disana sih. Lagipula sayang kan kalau kau membuang kesempatan untuk bersekolah di Horikoshi.”

“Sepertinya kau sangat ingin aku bersekolah disana ya? Kau ingin aku masuk ke sekolah yang sama denganmu, eh?” selidik Manami.

“EEEHH? I-iie! A-aku tidak bermaksud begitu kok!” sanggah Ryutaro tergagap. “Aku hanya berpikir, akan sangat disayangkan kalau kau membuang kesempatanmu itu. Bisa bersekolah di sekolah ternama seperti Horikoshi adalah suatu kebanggaan bagi kita, deshou?” lanjutnya.

“Sou ka. Wakatta. Aku akan mempertimbangkan soal Horikoshi. Arigatou ne, Morimoto-kun.”

* * *

Bulan April akhirnya tiba. Ryutaro pun resmi mejadi siswa SMA Horikoshi. Setelah berpisah dengan Yama-chan, Chinen, dan Yuto karena kelas mereka ada di arah yang berbeda, Ryutaro berjalan menuju kelas barunya. 1-D. Tiba-tiba matanya menatap sosok yang dikenalnya sedang berdiri di depan pintu kelas. Menyadari ada seseorang yang berjalan ke arahnya, sosok itu menolehkan wajahnya. Saat melihat Ryutaro, ia tersenyum tipis.

Sosok itu, Manami Oku.

“Ohayou!” sapanya.

“O-ohayou!” balas Ryutaro. “Akhirnya kau jadi sekolah disini?” tanyanya tak percaya.

“Begitulah. Tapi aku tetap akan keluar dari grupku. Tekadku sudah bulat soal itu,” jelas Manami.

“Sayang sekali,” jawab Ryutaro. “Lalu? Apa alasanmu sehingga kau memutuskan untuk bersekolah disini?” Ryutaro bertanya lagi.

Lho? Bukankah kau yang setengah memaksaku untuk sekolah di Horikoshi saat kita bertemu di taman waktu itu?” Manami balas bertanya dengan wajah polosnya.
“EEEHH?”

Manami tertawa pelan. “Anyway, kita akan menjadi teman sekelas selama tiga tahun ke depan. Yoroshiku onegaishimasu,” katanya sambil sedikit membungkukan badan. Belum sempat Ryutaro menjawabnya, Manami sudah berlalu dari hadapan Ryutaro untuk masuk ke dalam kelas.

“Yoroshiku onegaishimasu,” jawab Ryutaro pelan. Sekilas senyum tampak di wajahnya.

Sepertinya kisah mereka berdua tidak akan selesai sampai disini, deshou?

[ o w a r i ]

Buat fansu AKB48 terutama fansu-nya Maa-chan, GOMEEENN !

Saya sebenernya tau soal AKB48 udah lama, tapi baru “bener-bener nyari tau” itu pas akhir-akhir ini aja. Jadi mungkin ada info yang salah soal AKB48 dan Maa-chan di FF ini.

Gomen atas ke-sotoy-an saya.

Saya ga tau pasti Maa-chan itu orangnya kayak gimana. Tapi seenaknya bikin karakter dia jadi kayak gini.

Sekali lagi, HONTOU NI GOMEN ! u__u

Trus buat fansu-nya Ryuu yang ga suka pairing ini juga, GOMEN NE~

Fanfic ini saya bikin atas imajinasi saya sendiri. Saya emang suka bikin pairing sendiri yang aneh-aneh =]

Yang terakhir, mohon maaf kalau ungkapan-ungkapan Jepangnya ada yang salah. Maklum saya masih dalam proses belajar ^^

Anyway,

comment = love + support !

saya kasih peluk dan cium pake tubuhnya ichiban masing-masing deh buat yang komen XD

lol

buat yang udah menyempatkan diri untuk baca fanfic ini, arigachuu~ ♥

current music : 너 말이야 by 5dolls

current location : salah satu warnet di deket rumah

current mood : galau milih jurusan PTN -,-

Read More......

Sep 6, 2010

[FF] Five Boys One Girl

halo semua!!
setelah sekian lama g produktif di sini
diriq pengen ngpost FF. .
sebenernya FF ini sudah pernah diriq ceritakan
ke salah satu member DC dan membuatnya penasaran
jdi aq posting aja dech..




ini FF pertama yang aku publikasi *biasa'a dbaca sndiri*
jadi klo bnyak kesalahan n agak mengarang bebas banget
yaa beginilah FF diriq ^^


Cast : FT Island member
KIm Hana

START!!!

PART 1. FIRTS MEETING

Ternyata musim gugur sangat dingin dan angin bertiup tanpa henti, bahkan daun-daun berguguran dan menutupi sisi pinggir jalan yang banyak ditumbuh pohon-pohon besar yang meranggas. Pakaian pun mulai serba tebal, seperti jaket atau sweter. Bagi orang-orang yang tinggal disini mungkin sudah terbiasa, tetapi baginya musim gugur di korea baru pertama kali ia rasakan. Seorang perempuan blasteran Indonesia dan korea baru saja melangkah keluar dari rumah sakit untuk menemui pamannya yang bekerja sebagai dokter disana. Karena ada suatu urusan di korea, akhirnya dia memutuskan untuk bertemu pamannya yang sudah hampir 10 tahun tidak ditemuinya, karena letak geografis yang memisahkannya.
Kim Hana nama koreanya pemberian ayahnya yang merupakan warganegara korea yang kini tinggal di Indonesia karena urusan pekerjaanya. Sekarang dia berada di dalam taksi yang akan menantarnya ke sebuah apartemen yang sudah di siapkan oleh pamannya. Setengah jam kemudian sampailah dia di depan sebuah apartemen yang entah berapa lantai, mungkin puluhan dan terlihat modern.
Hana memasuki apartemen tersebut dan mencari ruangannya di lantai 15 nomor 251 dengan menggunakan lift. Tidak sampai 1 menit Hana telah berdiri didepan kamar nomor 251. Lalu dikeluarkan kunci kamarnya yang berupa kartu dari saku jaketnya yang diberikan pamannya. Belum sempat ia memasukkan kuncinya, pintunya terbuka sedikit dan tidak terkunci.
Awalnya dia sempat curiga, dan dia melihat kembali kertas yang ada di tangannya dan mencocokannya. Benar dan sesuai dengan yang ada dikertas, tanpa ambil pusing Hana memasuki ruangan tersebut. Dia tekejut ternyata apartemennya begitu luas. Dan dalamnya sudah tertata banyak barang seperti sudah ada yang menempatinya. Kemudian kedatangan Hana di sambut oleh seekor anjing tipe Siberia berwarna abu-abu yang memiliki mata yang tajam menghampirinya. Kali ini Hana benar-benar berfikir kalau dirinya salah kamar. Ketika dia berbalik keluar dan hendak memakai sepatunya lagi, ada sesosok cowok yang tingginya kurang lebih 176 cm berada dihadapannya. Selain itu ternyata orang tersebut sudah dikenal sangat baik olehnya yang merupakan salah satu fansnya. Keduanya pun terkejut.

“HWEEE…!!!!” keduanya saling berteriak. Lalu diam sejenak.

“Jonghun!” tunjuk Hana ke cowok itu, dan Hana benar-benar tidak percaya apa yang dilihatnya. Lalu cowok yang bernama Jonghun balas menjawab, “iya, tapi…tapi… kamu siapa & kenapa ada di kamar ini?” tanyanya.
“Ternyata benar aku salah kamar.” sela Hana. Jonghun tampak agak binggung dengan maksud salah kamar karena dahinya lansung berkerut. Hana yang mengerti maksud ekspresi mukanya langsung memberikan secarik kertas yang dari tadi ada ditangannya.
“Aku mencari kamar yang ditulis di kertas ini. Dan aku tidak menyangka ternyata kamar yang aku masuki adalah kamar kalian.” Sambil melihat sekeliling ruangannya. Jonghun yang melihatnya membalasnya dengan tersenyum juga setelah melihat isi di kertas itu. Tak lama kemudian ada beberapa orang yang masuk sambil berlari.
“Jonghun-hyung ada apa tadi ber. . .” kata-katanya tidak dilanjutkan karena dia melihat Hana. Tidak hanya 1 orang yang melihat kehadiran Hana tetapi ada 4 orang. Dan mereka pun tercengang dan berteriak.
“ HWEEE. . .!!!” mereka berteriak serempak sampai-sampai Jonghun menutup kedua telinganya.
“Kamu siapa? Fans yaa?” Tanya cowok yang memiliki wajah manis dan imut yang merupakan salah satu pemain bass di FT Island yang bernama Lee Jaejin. Kemudian datang pertanyaan lainnya.
“kita ada acara syuting reshow sekarang kah?” Tanya cowok yang merupakan seorang vokalis FT Island yang bernama Lee Hongki. Pertanyaan ke tigadatang tetapi bukan untuk Hana melainkan untuk Jonghun yang membuat Hana tertawa.
“wah, diam-diam ternyata Jonghun-hyung menyembunyikan seorang gadis dari kita semua.” dan sebuah jitakan melayang ke atas kepalanya.
“Jangan asal ngomong. Seunghyun kebiasaan.” jitak Hongki ke kepala Seunghyun yang merupakan pemain gitar juga.
“kita beneran syuting kah?? Tapi kok tidak ada kamera 1 pun?” sambil celingukan melihat ke dalam kamarnya. Dan dia adalah member yang paling muda yang bernama Choi Minhwan.

Hana yang melihatnya hanya bisa menahan tawanya. “Maaf, telah membuat kacau dan membingungkan kalian semua.” Hana membungkukkan badannya dan meminta maaf. Lalu Jonghun mengembalikan kertas yang dari tadi di pegangnya.
“Yang ditulis di kertas memang benar, mungkin ada kesalahan nomor kamarnya, karena ini kamar kami.” sambil menunjuk isi kertas tersebut. Ternyata tidak hanya Hongki yang kebingungan, tetapi yang lain juga.
“Maksudnya nomor kamar?” tanyanya kepada Jonghun.
“Dia salah kamar, tetapi alamat yang ditulis di kertasnya benar, nomor kamar ini.” Jonghun menjelaskan.
“Saya benar-benar minta maaf. Saya akan mencoba menanyakannya lagi dengan paman saya.” sambil membungkuk.
Belum sempat Hana kembali pada posisi semula, perutnya yang tidak mau berkompromi akhirnya berbunyi juga dan dia yakin bukan hanya dia yang mendengarnya, tetapi semua orang yang ada di hadapannya pasti mendengarnya juga. Begitu posisinya sudah kembali tegak, Hana melihat mereka tersenyum sambil menahan tawanya. Melihat mereka yang tertawa setelah mendengar suara perut Hana, muka Hana seketika berubah menjadi merah padam dan menahan malu.
“Sekali lagi saya minta maaf, saya akan segera pergi.” Hana benar-benar malu dan ingin cepat-cepat pergi dari hadapan mereka. Lalu dia menghampiri sepatunya yang tergeletak didepan pintu masuk. Tetapi pintunya ditutup oleh Jaejin. Hana yang melihatnya merasa heran dan kaget.
“Kami tidak akan membiarkan seseorang kelaparan pada malam hari apalagi dia seorang perempuan yang sedang mencari alamat.” Kata Jaejin dan dilanjutkan dengan anggukan yang lain.

Hana yang keget tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan menerima tawaran mereka. Benar-benar tidak disangka-sangka bisa berada di dorm FT Island dan di ajak makan bersama.
Ngomong-ngomong, manager-hyung dimana??” Hongki membuka pembicaraan sambil menyuapkan nasi yang ada disumpitnya ke dalam mulutnya.
“Tadi dia sms kalau dia mau keluar sebentar. Entahlah mau kemana.” Jawab Jonghun. Lalu Hongki melirik ke arah Hana, “Kenapa kamu makannya sedikit? Cobalah makan yang ini dan yang ini.” Sambil menawarkan makanan yang penuh warna-warni.
“Gomawo.” Memang tidak ada kata lain yang bias dkatakan kecuali terima kasih.

Lalu Minhwan mulai bersuara, yang dari tadi hanya berebutan daging dengan jaejin. “Maaf, boleh kami tahu nama nunna?” kata-kata dari Minhwan serentak membuat semua orang yang ada di kamar tersebut melihat Hana. Dan jujur saja sebenarnya Hana juga lupa untuk memperkenalkan dirinya saking gugupnya.
“Mianhae, aku benar-benar lupa memperkenalkan diriku padahal sudah di ajak makan oleh kalian semua.” Hana menundukan kepalanya lagi dan kembali pada posisi semula.
“Namaku Kim Hana, 18 tahun dari Indonesia. Salam kenal semuanya.” Perkenalan yang singkat, jelas, padat dan membuat semua anak-anak FT Island kaget.
“Hweeee. . .!!! Indonesia!!” seru Hongki yang saking kagetnya, mulutnya sampai terbuka padahal masih ada makanan dimulutnya.
“Jauh banget dari Indonesia kesini.” Seru Jaejin. Kemudian pertanyaan datang lagi dari Minhwan, “Nunna lagi ada urusan kah d Korea?” dan dijawab dengan anggukan oleh Hana.
Lalu Hana menceritakan tentang negara asalnya tersebut kepada 5 cowok keren yang berhasil merebut perhatian banyak cewek dengan lagu-lagunya dan perform mereka. Selain itu Hana juga menceritakan tentang fans-fans FT Island yang ada di Indonesia dan mereka benar-benar terkejut bahwa di Indonesia ternyata banyak yang menyukai mereka. Namun ketika mereka sedang asyik-asyiknya bercerita Hp Hana berbunyi. Hana berpindah tempat menjauhi mereka untuk mengangkat hpnya yang berbunyi. Dan di layar hpnya tertera nama Kim Min Jae yang merupakan nama pamannya.
“Yoboseo.” Sapa Hana duluan.
“Ne, yoboseo. Hana bagaimana apartemennya? Kau suka?” tanya pamannya.
“Paman, sebenarnya kamar apartemennya nomor berapa?” jelas sekali kalau pertanyaan Hana membuat sang paman kebingungan.
“Maksud kamu? Kamu belum sampai d apartemennya?”tanyanya lagi.
“Sebenarnya sudah sampai dari tadi, tapi alamat nomor kamar yang paman kasih salah. Itu kamar orang lain.” Jelas Hana.
“Hah? Bagaimana bisa salah? Jelas-jelas paman menulisnya dengan benar kamar no. 231.” Lalu Hana mengeluarkan kertasnya lagi dari kantung celananya dan melihatnya lagi sambil mengerutkan dahinya.
“231? Disini paman menulisnya 251 bukan 231.” Jelasnya Hana sekali lagi kepada pamannya.
“251? Paman menulisnya 231 bukan 251. Kalau 251 sudah pasti salah. Itu angka 3 bukan angka 5, Hana.” Hana mencoba melihat lagi angka yang tertera di kertas tersebut, jelas-jelas angka 5 yang tertulis tapi pamannya bilang kalau itu angka 3.
“Baiklah paman, aku akan mencoba ke kamar 231.” Jawab Hana yang masih memperhatikan angka yang bermasalah itu.
“Ya sudah, nanti kalau sudah samapi telpon paman lagi.” Suruhnya, lalu menutup teleponnya.

Hana memasukan hpnya kedalam saku celananya lalu kembali ke tempat semula sambil memegang kertas bermasalah tersebut. “Ternyata benar, aku salah kamar.” Hana memulai pembicaraan dan mereka berlima kembali menatap Hana untuk ketiga kalinya.
“Nomor kamar yang dimaksud 231, bukan 251.” Jelas Hana.
“Boleh aku coba lihat lagi kertasnya?” Seunghyun meminta kertas tersebut, bersama Hongki dan Jaejin yang ada disebelahnya ikut melihatnya. Lalu seunghyun dan jaejin tersenyum bersamaan.
“Siapa yang menulis ini?” tanya jaejin.
“pamanku yang menulisnya.” Jawab Hana.
“Pamanmu benar-benar bikin susah yaa.” Sambil tersenyum lalu menaruh kertas tersebut di atas meja agar bisa dilihat oleh semuanya. Lalu dia mulai menjelaskan.
“Sebenarnya ini angka 3, tapi karena atasnya terlalu panjang jadi di kiranya angka 5.” Seunghyun menunjuk bagian atas angka tersebut.
“Benar-benar seperti angka 5.” Kata Jonghun sambil mengerutkan dahinya melihat angka tersebut.
“Iya.” Kata Minhwan dan anggukan dari Hongki.
“Terjawab sudah kamar yang di maksud di kertas ini.” Kata Jaejin. “Karena kamar 251 adalah tempat kami.” Jelasnya sambil tersenyum.
“Jadi?” tanya Hongki.
“Kamarku ada di nomor 231. . .” jawab Hana dan mereka berlima mengangguk, tetapi ucapan Hana belum selesai.
“. . . dan sebagai ucapan terima kasihku, aku akan mencuci semua piring yang ada di meja makan ini.” Lanjut Hana sambil tersenyum. Awalnya mereka masih mengangguk dengan perkataan Hana, tetapi ketika mendengar kalimat terakhirnya lansung saja mereka kaget dan berteriak, “TIDAK USAH!!!” reaksi mereka benar-benar di luar dugaan dan membuat Hana tertawa.
“Gwaenchana, hanya ucapan terima kasih karena sudah membuat kalian repot dan membantuku. Bahkan sudah memperbolehkanku makan disini bersama kalian.” Hana mulai berdiri dan membawa piring dan mangkuk yang sudah kosong.
“Boleh tahu dimana dapurnya?” tanya Hana. Jonghun yang berada di samping Hana ikut membawa piring yang kotor dan memberitahukan tempatnya. Ternyata nggak hanya Jonghun, tapi yang lain juga ikut membantu. Hana yang mencuci, Hongki yang membilas, Jonghun yang mengeringkan, dan Jaejin yang menata piring-piring yang sudah dikeringkan di lemari. Sedangkan Seunghyun dan Minhwan kebagian merapihkan ruang tamu dan meja makan.

Selesai membantu membereskan ruangan, tiba saatnya Hana untuk pamit dan menuju apartemen yang sebenarnya.
“Jeongmal gomawo atas semua kebaikan kalian.” Sambil membungkukan badannya lagi.
“Gwaenchana.” Kata Jonghun, lalu dilanjutkan oleh Minhwan, “Nunna sering-sering main lagi yaa ke sini” kata-kata Minhwan tersebut membuat Hana kaget mendengarnya.
“Apartemenmu tiga lantai dibawah kami.” Jelas Jaejin.
“Ne, aku mau mendengar lebih banyak lagi tentang Indonesia dan para fans kami yang ada disana.” kata Minhwan.
“Tapi aku tidak yakin, akan kesini sering-sering. Pastinya jadwal kalian padat. Selain itu kalian harus lebih banyak latihan.” Jawab Hana.
“Baiklah, kalau begitu.” jawab Jonghun sambil tersenyum.

Hana memakai sepatunya, lalu pergi meninggalkan apartemen mereka. tidak diduga-duga dia bisa seberuntung itu bertemu FT Island, bahkan saling mengenal satu sama lain. Kalau teman-temannya yang berada di Indonesia mengetahuinya, bisa-bisa Hana di sidang dengan berbagai pertanyaan. Dan kini di dalam pikirannya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Semantara itu didalam apartemen yang dihuni oleh 5 cowok keren, salah satu dari mereka menemukan gantungan HP yang sepertinya bukan milik mereka berlima tergeletak di lantai.
“Hyung, coba kesini deh.” Awalnya Minhwan hanya ingin memanggil Hongki, tetapi yang lain juga ikut manghampiri karena mereka merasa sebagai hyungnya Minhwan.
“Ada apa?” Tanya Seunghyun. Lalu Minhwan memperlihatkan gantungan hp tersebut.
“Jangan-jangan itu. . . .” Jonghun tidak melanjutkan kata-katanya, lalu mereka saling menatap satu sama lain dan tiga orang dari mereka tiba-tiba tersenyum dengan penuh maksud, sedangkan yang duanya lagi kebingungan dengan arti dari senyuman itu.

========== To Be Continue ==================

Read More......

May 10, 2010

[FF] You're My Last Love

FF kedua yang aku posting disini..
demi melunasi hutangku pada member dc..
hehe..


happy reading :D



You're My Last Love

casts : Cho Kyuhyun, Park Taehee
genre : Romance
length : Oneshot / 904 words
rating : T / PG+13


“Yoboseyo?”
“Jagiya, kau belum tidur?”
“Belum. Kau meneleponku malam-malam seperti ini. Ada apa Kyunnie?”
“Aku ingin bicara padamu,”
“Bicara tentang apa? Katakan saja. Aku akan mendengarkan.”
“Bukan. Tidak bisa ku katakana di telepon. Besok aku tidak ada pemotretan. Kita bertemu di tempat biasa ya.”
“Tempat biasa? Baiklah. Jam berapa?”
“Kalau jam 10 pagi, bagaimana? Kau bisa kan?”
“Tentu saja aku bisa.”
“Baiklah, sampai ketemu besok, jagiya. Annyeong. Saranghae.”
“Nado saranghae, oppa. Annyeong”
Ku tekan tombol berwarna merah di handphone-ku yang memutuskan pembicaraanku dengannya. Tapi apakah ia ingat kalau besok adalah 1st anniversary kami? Tentu saja ia tak akan lupa kan? Aku jadi tidak bisa tidur membayangkan apa yang akan terjadi besok.

* * *

Aku tidak menyangka managerku akan menjemputku di rumah dan menarikku paksa ke lokasi pemotretan ! Padahal aku sudah berjanji akan bertemu dengan Taehee pukul 10 di taman! Dan kau tahu? Sekarang jam telah menunjukkan waktu tepat jam 10 dan aku masih berada di lokasi pemotretan yang jaraknya sangat jauh dari taman. Ku tepuk dahiku pelan saat melihat baterai handphone-ku yang lowbet. Babo! Aku lupa men-charge baterainya semalam. Kalau begini, bagaimana caranya aku bisa menghubungi Taehee?

* * *

Aku turun dari mobil managerku saat kami harus menuju arah yang berlawanan. Ku langkahkan kakiku dengan cepat menuju taman. Tapi aku ragu apakah Taehee masih menungguku disana? 5 jam lebih sudah berlalu dari waktu janjian kami. Aku akan sangat mengerti kalau dia lelah menungguku dan memutuskan untuk pulang. Tapi aku akan sangat mencintainya kalau ternyata ia masih setia menungguku sampai sekarang.

Saat melewati toko bunga, hatiku menyuruhku untuk berbelok arah sebentar dan membeli buket bunga mawar. Mawar, aku tahu Taehee sangat menyukai bunga itu. Tadinya aku merencanakan suatu kejutan untuknya. Tapi karena pemotretanku tadi, terpaksa ku batalkan rencanaku itu. Aku meneruskan perjalananku menuju taman sambil menggenggam erat buket bunga di tangan kananku. Aku tersenyum sendiri membayangkan bagaimana ekspresinya saat aku menyerahkan bunga ini untuknya.

* * *

Aku memasuki wilayah taman dengan hati tak karuan. Namun langkahku mantap menuju suatu tempat yang ku janjikan padanya. Kursi taman yang telah menjadi tempat favorit kami, karena pertemuan pertama kami terjadi disana. Kami selalu duduk disana ketika mengunjungi taman ini. Entah hanya untuk berbincang-bincang sambil makan es krim coklat kesukaannya. Ataupun untuk melepas lelah setelah kami berputar-putar mngelilingi taman yang cukup luas ini. Biasanya kami selalu bertemu di taman ini di akhir minggu. Tapi mungkin karena pekerjaanku sebagai seorang model yang baru saja ku mulai sekitar lima bulan lalu membuatku jarang menghabiskan waktu di taman ini bersamanya,

Aku semakin dekat dengan kursi favorit kami dan kulihat dia masih ada disana! Dia masih menungguku ! Ku lihat wajahnya yang cemas dan berkali-kali melihat sekeliling. Mungkin ia mencari-cari sosokku di tengah para pengunjung taman? Aku melangkah semakin dekat ke arahnya. Sekarang ku lihat ia sibuk dengan handphone-nya, seperti ingin menelepon seseorang, namun selalu dibatalkannya. Hal itu terus berulang sampai yang tiga kali. Aku bertanya-tanya, siapa yang ingin di telepon olehnya sebenarnya?

Aku melangkah lagi untuk mempersempit jarak antara kami. DIsaat itulah aku tersadar bahwa aku tidak memegang buket bunga yang tadi aku beli. Buket bungnya hilang ! Kemana perginya buket bunga itu? Padahal seingatku, aku tidak pernah melepaskannya sejak tadi.

Kini aku berdiri di hadapannya dan kebetulan sekali ia sedang menatap ke depan. Ke arah aku yang sedang beridiri. Tetapi ia sama sekali tidak menyadari keberadanku ! Kenapa ? Apakah ia marah padaku karena aku membuatnya menunggu terlalu lama dan sekarang ia pura-pura tidak mengenaliku?
“Jagiya,” panggilku sambil tersenyum lebar. Tetapi ia tetap diam.
Ku coba untuk menarik perhatiannya dengan melambaikan tangan kananku di wajahnya. Tetap tidak ada reaksi darinya dan ia malah mengalihkan pandngannya ke arah jam besar yang tak jauh dari kami. Pukul 15.15 sore. Aku sudah terlambat sekitar 5 jam dan Taehee sudah terlalu lama menungguku.

* * * *

Ku ulurkan tangan kananku, mencoba untuk meraih dan menggenggam tangannya. Tapi apa ini? Tidak bisa! Aku tidak bisa menyentuh tangannya ! Tidak terasa apa-apa seperti tanganku menyentuh udara kosong saja. Andwae~ Apa yang terjadi?

Ponsel yang digenggam Taehee berdering memecah keheningan. Dia menekan satu tombol dan menyapa seseorang yang menghubunginya. Aku tidak tahu apa yang dikatakan orang di telepon itu pada Taehee. Tapi seketika itu juga air matanya langsung mengalir deras. Tubuhnya bergetar hebat dan handphone-nya tejatuh dari genggamannya. Ada apa? Siapa yang meneleponnya itu? Apa yang membuat Taehee-ku menangis?

Tiba-tiba napasku tercekat di tenggorokan seolah-olah ada yang menarik paksa untuk keluar dari tubuhku. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku terengah-engah dan masih berusaha untuk menarik napas. Samar-samar aku bisa mendengar suara yang berasal dari handphone Taehee. Aku yakin aku sangat mengenali suara itu. Hwang Chansung, sahabat karibku. Aku tidak akan marah ataupun cemburu kalau ia menghubungi Taehee. Namun semua yang dikatakannya membuat mataku terbelalak.


* * * *


“Taehee-ah, kau harus sabar. Aku mengerti perasaanmu. Kita semua tidak ingin Kyuhyun pergi meninggalkan kita secepat ini. Kecelakaan itu terjadi begitu cepat. Mobil yang menabraknya itu… Ah, aku juga tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya! Taehee? Taehee-ah, kau masih disana? Kau mendengarkanku kan? Kita harus cepat ke rumah sakit sekarang. Dimana sebenarnya kau berada? Aku akan segera menjemputmu disana! Jangan pergi sebelum aku datang! Kau mengerti, Taehee-ah?”


- E N D -


still in my room, Bekasi, Indonesia


when I listening to Sorry (Dear. Daddy) by f(x)


May 9th, 2010 - 19.50 WIB


by : {woobaby ♥}



udah aku ganti judulnya yaa :D
terinspirasi dari lagunya MBLAQ..
yang sampe sekarang masih pengen gue cari tau part-partnya =="



for desy : I hope you like it ;)

Read More......

May 8, 2010

[FF] I Did Wrong

AIGOOO~
dipaksa posting !
gak tau deh ini ceritanya gak karuan kayak apa >////<


.

` I Did Wrong `

casts : Park Eunjin, Kim Junsu, Kwon Jiyong (cameo)
genre : Romance
length : Oneshot / 1255 words
rating : T / PG+13


“Maaf, aku jenuh padamu.”
Kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulutku. Aku harap ia bisa mengerti. 2 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ada kalanya aku merasa bosan, dan sekaranglah puncaknya. Berpisah untuk sementara waktu mungkin jalan yang terbaik untuk kami berdua. Lagipula berpisah sementara bukan berarti putus kan?
“Kita berpisah untuk sementara waktu. Aku rasa dengan begini kita bisa sama-sama berpikir apakah hubungan kita masih bisa dilanjutkan lagi atau tidak,” lanjutku.
“Untuk berapa lama?” tanyanya setelah terdiam sebentar.
“Aku juga tidak tahu. Sampai kita bisa memutuskan mana yang terbaik untuk kita.”
“Baiklah. Aku mengerti.”
* * * *

Rasanya aku sudah mengerti saat ia berkata ingin berbicara hal yang penting denganku. Terutama saat ia bilang bahwa ia jenuh padaku. Aku mengerti hubungan kami memang agak menjauh akhir-akhir ini. Akhir-akhir ini aku sering tidak punya waktu untuk bersamanya karena sibuk mengaransemen lagu untuk grup musikku. Aku dengarkan penjelasannya sampai ia selesai berbicara.
“Untuk berapa lama?” tanyaku. Tidak yakin apakah kalimat tadi adalah kalimat yang tepat untuk merespon penjelasan panjangnya.
Saat pembicaraan kami selesai, dimulailah masa-masa perpisahan kami yang menurutnya hanya sementara.
* * * *

Hari pertama setelah pembicaraan kami kemarin, berjalan dengan baik-baik saja. Walaupun aku (mungkin dia juga) merasa sangat lelah karena harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang aku dan dia. Sejak tadi pagi, teman-teman sekelas heran dan mulai bertanya-tanya saat melihat kami tidak berangkat sekolah bersama. Tentu saja mereka heran, karena pasangan yang diberi gelar “The Best Couple Ever” oleh mereka tidak mesra seperti biasanya, bahkan tidak berbincang-bincang dan malah terkesan menjauhi satu sama lain. Sepertinya mereka semua merasa khawatir kalau kami putus. Karena mereka akan sangat kehilangan pasangan yang sangat mereka setujui untuk menikah. Ada-ada saja mereka.
* * * *

Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Semua teman sekelas bertanya apakah aku sudah putus dengannya. Aku hanya menjelaskan dengan sabar. Memang tidak mudah berpisah seperti ini, apalagi kalau kami sekelas dan kami mempunyai teman-teman sekelas yang sangat peduli dengan hubungan kami. Tapi sepertinya dia baik-baik saja tanpaku seharian ini, jadi aku tidak perlu khawatir.
* * * *

Pulang sekolah, aku kebingungan mencari bus yang menuju ke rumahku. Kalau ku ingat-ingat, mungkin ini pertama kalinya aku naik bus selama 2 tahun terakhir. Berpacaran dengan seorang Kim Junsu selama kurang lebih 2 tahun, membuatku tidak tahu arah karena sangat dimanjakan olehnya. Kemanapun aku pergi, ia selalu siap sedia mengantar dan menjemputku. Begitupun kalau ke sekolah. Tiap pagi ia selalu menjemput dan sorenya mengantarku pulang.
“Lho? Kenapa kamu naik bus? Junsu tidak mengantarmu pulang?” tanya oppaku, Jiyong, terheran-heran saat aku baru saja sampai di rumah.
“Aku ingin mandiri, jadi aku pulang sendiri. Memangnya tidak boleh?” jawabku sekenanya.
“Hei, ini tidak seperti biasanya, makanya aku heran. Kenapa? Kau putus dengan Junsu?” tanyanya lagi.
“Tidak kok,” kataku sambil berjalan menuju kamar.
* * * *

Aku baru sadar bahwa aku mengarahkan motorku ke arah rumahnya saat aku berada di pertigaan dekat rumahnya. Aku menepuk dahiku pelan. Aku lupa kalau hari ini aku tidak perlu mengantarnya pulang. Rasanya hal itu sudah menjadi kebisaanku selama 2 tahun terakhir, jadi aku sulit untuk mengubahnya. Tapi, apakah ia tahu bus mana yang menuju ke arah rumahnya? Dia tidak akan tersesat kan? Atau mungkin dia meminta oppanya, Jiyong hyung, untuk menjemputnya?
* * * *

Hari kedua, ketiga, dan keempat, berjalan dengan lancar. Memasuki hari kelima, aku mulai merasakan ada yang hilang. Terutama saat jam pulang sekolah. Jiyong oppa hanya bisa mengantarku ke sekolah saat pagi hari. Dia tidak bisa menjemputku karena ia pun harus kuliah sampai sore. Aku yang selalu diantar pulang oleh Junsu, kini harus berdesak-desakkan di dalam bus. Lalu di malam hari, aku juga merasakan kehilangan saat menyadari tidak ada lagi yang meneleponku sebelum tidur. Sekedar mengucapkan selamat tidur, saranghae jagiya, ataupun menyanyikan lagu pengantar tidur untukku.
* * * *

Aku baru saja ingin memejamkan mata saat menyadari ada sesuatu yang kurang. Aku menyambar handphone yang ada di meja sebelah tempat tidurku secepat kilat. Membuka phonebook dan menatap nama kontak pertama yang ada disana. Jariku sudah tidak sabar untuk menekan tombol panggil. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak mendengar suaranya. Aku juga ingin menyanyikan lagu untuknya. Tapi ku urungkan niatku untuk menghubunginya saat aku teringat pembicaraan kami lima hari lalu. Kami sedang berpisah sementara. Ya. Tentu saja aku tidak akan lupa tentang hal itu.
* * * *

Tanpa ku sadari, sekarang sudah genap seminggu saat kami memutuskan untuk berpisah sementara. Aku melangkahkan kaki menuju ke balkon kamarku. Kutatap langit yang gelap tanpa bintang. Ku genggam erat handphone di tangan kananku. Sejak tadi aku berkali-kali menatap layar handphone-ku. Berharap ada sms atau telepon masuk darinya. Aku menghela napas panjang.
“Babo ! Dia tidak akan menghubungimu ! Kalian kan sedang berpisah saat ini !” rutukku pada diri sendiri.
* * * *

“AAAAHH ! Aku tidak ada ide lagi !” teriakku kencang.
Lagu buatanku yang ku kerjakan selama dua minggu terkahir belum juga selesai. Padahal besoklah deadline-nya. Grup musikku harus rekaman besok sore. Aku mengingat-ingat sejak kapan proses pembuatan laguku ini terunda. Namun hanya ada satu hal di pikiranku. Hari itu, tepat seminggu yang lalu. Hari dimana aku berpisah dengannya. Berpisah sementara, maksudku.
Seperti terhipnotis oleh sesuatu, aku segera mengambil jaket dan berlari keluar rumah. Tidak ku pedulikan teriakan eomma-ku yang bertanya aku mau kemana. Aku terus berlari secepat kilat tanpa memperhatikan sekelilingku. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai di tempat itu. Aku ingin cepat-cepat memeluknya.
* * * *

“TOK !”
Aku dikagetkan oleh bunyi sebuah benda yang mengenai kaca jendelaku. Sebuah batu kecil. Sepertinya di lempar dari arah… bawah? Aku melihat ke bawah dan melihat dia berada disana. Ya, dia. Kim Junsu. Kekasihku.
Tanpa pikir panjang aku segera masuk ke dalam kamar. Menutup jendelaku dengan rapat.
* * * *

Akhirnya aku sampai di depan rumahnya. Namun kakiku seakan bergerak tanpa perintahku untuk terus berlari ke arah samping. Menuju ke arah jendela kamarnya. Tepat saat itu ku lihat dia sedang berdiri di balkon kamarnya, menatap langit. Aku mencari cara untuk membutnya menyadari keberadaanku. Ku ambil sebuah batu kecil dan ku lemparkan kencang kearah kaca jendelanya. Tepat mengenai sasaran. Dia hanya diam menatapku dari arah sana. Belum sempat aku berkata untuk menyuruhnya turun, ia sudah berlari dan menutup jendelanya rapat-rapat. DEG! Kenapa dia bersikap seperti itu? Apakah ia benar-benar ingin berpisah denganku ?
* * * *

Aku menuruni tangga dengan cepat. Menabrak Jiyong oppa yang ingin menuju ke kamarnya yang berada di depan kamarku. Aku hanya ingin segera sampai ke tempatnya untuk memeluknya. Kami berdiri berhadapan dan jarak kami hanya tinggal 2 meter lagi. Ia menatapku. Entah apa arti tatapannya itu. Tanpa sadar air mata menetes di pipiku. Aku tak sanggup untuk berdiri lebih dekat lagi padanya. Aku telah berbuat salah karena memutuskan ‘perpisahan sementara’ ini. Aku telah berbuat salah karena tidak menyadari betapa pentingnya ia untukku. Bodohnya aku.
* * * *

Aku tidak menyangka ia akan berlari ke bawah untuk menyusulku. Ku kira kami sudah berkahir begitu saja saat ia menutup jendelanya tadi. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa menatapnya. Kemuadian aku melihat mata dan pipinya basah oleh air mata. Aku cemas. Apakah ia menangis karena aku?
* * * *

“Kau rindu padaku?” tanya Junsu setelah keduanya sekian lama terdiam.
Eunjin tidak menjawab. Air matanya mengalir semakin deras. Ia berlari dan memeluk Junsu erat-erat. Seolah-olah tidak mau melepaskannya lagi.
“Tentu saja aku sangaaaaaat merindukanmu, jagiya. Saranghae,” bisiknya di telinga Junsu.
Junsu sepertinya terkejut oleh tindakan Eunjin. Namun tanpa berpikir lagi, ia memeluk Eunjinerat sambil tangan kanannya mengusap rambut Eunjin dengan lembut.
“Nado saranghae, jagiya. Aku berjanji aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi,”

- F I N -


terinspirasi dari khayalanku semalam yang entah darimana asalnya...

In My Room, Bekasi, Indonesia,
May 8th, 2010 - 13.35 WIB
by : {woobaby ♥}

how was it?
yang baca W A J I B kasih komen ^^
i'll love you ! *hugs* haha
gomawo ~

Read More......

Aug 1, 2009

[FF] Destiny Of Love #2

setelah saiia kelar jg ngetik..
finally rilis jg nih chapter 2..
mianhaeyo buat para pembaca yg udah lama nunggu *lebaii*
terutama Iyaz yg udah marah2 ^^
keep reading and always comment yap..
xDD


CHAPTER 2

Pukul 07.00 pagi WK (Waktu Korea)
Kubuka perlahan kelopak mataku yang membengkak. Perlahan cahaya pagi mulai masuk ke sela-sela kedua mataku. Kupejar-pejarkan sesaat mencoba membiasakan mataku dengan cahayanya. Kepalaku sedikit sakit dan tersa berat. Namun sakit kepala ini tak seberapa disbanding dengan rasa sakit hatiku sekarang. Aku sedikit linglung. Aku mencoba berkhayal kalau itu hanya mimpi. Namun tak bisa. Sungguh sakit untuk dilupakan. Hatiku seakan membeku perlahan. Semua ini bukan karena diriku atau siapapun, tapi karenanya.

Aku tak tahan melihatnya terluka, melihatnya menangis, bahkan memohon dalam tangisnya. Seakan aku terjerumus oleh perasaan bersalahku saat itu. Aku tak dapat berkata-kata. Hanya tetes air mataku yang berbicara. Tapi hal itu malah menambah penderitaanya. Aku ingin hilang jika itu membuatnya tenang. Ingin ku ulang semua waktu. Tapi sudah terlambat. Sekarang aku hanya ingin hilang… Pergi meninggalkannya.

#Flashback#
Wajahku menegang. Aku tak tau apa yang akan aku katakan. Sebegitu parahnyakah penyakitku ini?
“Apa itu YunHo? Beritahu aku!” seru MinHo dari belakangku. Aku menoleh kehadapannya. Aku lihat wajahnya lebih kaget daripada aku. Aku takut. Belum pernah aku melihatnya seperti ini.
“Maafkan aku, mungkin aku salah. Tapi ini sudak ku cek berulang kali,” YunHo diam sesaat. “Ji Hee mengidap pembekuan otak stadium akhir.”
Untuk sesaat suasana menjadi hening. Aku bingung. Bahkan aku masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Aku tahu bahwa penyakitku pasti parah. Namun sebagian hatiku masih belum menerima semua ini. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuka pembicaraan.

“Ah, aku tak apa-apa koq YunHo-ssi. Mungkin kau salah.”
“Ji Hee-ah!” seru MinHo di belakanku.
“Tidak oppa! Dia yang salah! Itu tidak benar. Aku hanya sakit kepala bisa. Oppa tenang saja,” seruku. “Tenang saja oppa, aku pasti akan sembuh.” Namun entah mengapa air mataku menetes di pipiku. Aku buru-buru menghapusnya supaya tidak membuat MinHo khawatir.
“Ji Hee-ah.. Sudahlah..,”
“YunHo-ssi!!” teriakku memotong kata-kata MinHo. “Bilang pada oppaku kalau aku akan sembuh. Aku tahu kau berbohong kan? Aku pasti akan sembuh!” pintaku pada YunHo. Semakin lama air mataku semakin mengalir.
“Mianhae, Ji Hee-ah. Sungguh sulit menyembuhkan penyakitmu. Bahkan hanya sedikit orang yang berhasil hidup dengan penyakit sepertimu ini. Aku…”
“Apa yang akan terjadi padaku?!”potongku lagi dengan cepat.

“Ji Hee-ah, tenanglah...”
“YunHo-ssi, jawab aku!” teriakku tanpa mempedulikan MinHo.
“Perlahan kau akan sulit berpikir, penglihatanmu akan kacau. Sampai akhirnya kau akan cacat, dan menghadapi kematian.”
YunHo diam. Tak bergeming lagi. Aku pun begitu. Sulit untuk memahami apa yang terjadi. Aku mendengar suara isak tangis di belakangku.
“Berapa persen kesembuhanku?” tanyaku lagi. Suaraku sudah sangat parau. Aku mencoba menenangkan diri sesaat dan bertanya lagi. “Berapa persen kesembuhanku?”

“Kau akan sembuh, Ji Hee,” seru MinHo. Dia berjalan menghampiriku dan memeluk tubuhku dengan erat. Aku tahu dia menangis. Namun ia menahan tangisnya saat memelukku. Entah apa yang harus aku lakukan. Aku sudah tak bisa berbicara lagi. Dadaku sungguh sesak. Aku hanya diam selama MinHo memelukku.
“Kau akan sembuh. Ingat itu, Ji Hee! Aku berjanji, apapun akan aku lakukan demi kesembuhanmu.”
Aku pun tetap diam. Diam tanpa kata dalam pelukan eratnya. Tiba-tiba air mata deras jatuh dari mataku tanpa henti. Terus mengalir membasahi pipiku.

“YunHo, lakukan apapun demi kesembuhan Ji Hee. Aku mohon padamu. Hanya kamu yang dapat menyembuhkannya. Aku akan memberikan apapun padamu. Aku mohon, sembuhkan dia, YunHo.” Isak tangis itu terdengar lagi. Tangis seorang lelaki yang memelukku lebih dalam dan menyayat hatiku. Semakin erat ia memelukku. Seakan tak ingin melepaskan aku. Aku hanya dapat diam. Mencucurkan air mataku yang tak bisa berhenti sedetik pun. Begitu pun MinHo. Ia terus menangis sambil memelukku. Menangis dan terus menangis.
#Flasback End#

1 bulan kemudian
Aku berjalan menelusuri pusat perbelanjaan di Seoul. Aku memasuki tiap-tiap butik yang berjejer rapi di dalamnya, memilih-milih baju-baju yang cocok dan menarik untukku. Namun tak ada satupun yang menghilangkan kegundahanku atau sedikit membuatku terhibur. Hingga akhirnya aku memilih pergi ke sebuah café untuk beristirahat. Aku duduk di pojok café tepat menghadap ke jendela. Dimana aku dapat melihat jalan raya yang ramai saat itu. Banyak orang berlalu-lalang. Namun tak ada satupun yang ku kenal. Memang aku tidak mempunyai seorang teman.
Hanya MinHo satu-satunya teman sekaligus keluargaku. Bahkan hidupku tak butuh seseorang yang bernama teman. Sejak kecil aku hanya bermain dengan kakakku. Di seorang kakak dan teman yang baik bagiku. Aku tak butuh yang lainnya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku pelan dari belakang. Aku pun menoleh.

“Annyeong haseyo!” sapanya.
“Ne. Annyeong haseyo, YunHo-ssi. Apa kabar?” sapaku kembali. Ternyata dia adalah seorang dokter tampan yang sangat ku kenal akhir-akhir ini.
“Kabarku baik. Bagaimna denganmu?” tanya YunHo sambil mengambil posisi duduk tepat di hadapanku. Kami berhadap-hadapan sekarang. Jadi aku bisa memandangi wajah tampannya sampai aku puas.
“Sama seperti biasa. Kurasa kau yang lebih tau tentang kesehatanku,” jawabku mengejek.
“Hmm, ya, benar juga.” Dia hanya tersenyum menanggapi ejekanku. Senyum itu membuat wajahnya semakin terlihat tampan. “Apa sakit kepalamu sedikit membaik?”
Kurasa tidak. Bahkan terkadang aku sulit berpikir akhir-akhir ini.”

“Kau harus terus mengontrol kesehatanmu dengan teratur.”
“Ya, ya, ya.. aku tahu. Hanya itu yang dapat membuatnya lebih tenang,” kataku.
“MinHo maksudmu?” tebak YunHo
“Siapa lagi? Hanya dia yang sangat mengkhawatirkan aku. Lebih dari diriku sendiri.”
“Aku tahu. Dia memang sangat menyayangimu.”
Kami pun diam sesaat. Dia sibuk dengan pelayan dan pesanannya. Sampai akhirnya secangkir cappuccino sampai di hadapannya, aku pun memulai kembali pembicaraan.
“Tak terasa sudah 1 bulan kau memvonisku. Dan selama itu pula dia sangat mencemaskan kesehatanku. Dia sampai sangat protektif. Bahkan dalam hal sekecil apapun pasti ia tanyakan padaku. Hahahaha… sungguh sangat aneh.”

“Apa kau sangat menyayanginya?” tanya YunHo.
“Lebih dari yang kau tahu. Hanya dia keluargaku. Dan aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya.”
“Kau… Apa kau mencintainya?” tanya YunHo lagi, kali Ini dengan wajah seriusnya. Aku kaget. Tak kusangka perasaanku diketahui olehnya. Buru-buru aku menyangkalnya agar dia tidak curiga.
“Aniyo.. Aku sangat menyayanginya sebagai oppa. Mana mungkin aku menyukainya sebagai lelaki.”
“Maafkan aku.. Aku berbicara yang tidak-tidak.”
“Gwaenchanaeyo, YunHo-ssi,” kataku sambil menyunggingkan senyum.

“Ji Hee, apakah kau melupakan sesuatu?” tanya YunHo untuk kesekian kalinya. Namun sekarang pandangannya sangat aneh. Ia terus menatapku dengan tajam.
“Apa? Maksudmu melupakan apa?”
“Ahh, tidak.. maksudmu apa kau tidak lupa untuk meminum obat-obatmu.”
“Hah? Lama-lama kau jadi mirip dengan MinHo, tahukah kau? Bagiku cukup hanya ada 1 MinHo di dunia ini. Aku tak ingin ada orang yang berlebihan sepertinya. Jangan sampai kau menjadi seperti dirinya,” kataku setengah mengancam.

“Huahahahaa.. kau lucu sekali!” YunHo tertawa geli. Aku tertegun. Hmm, seingatku baru kali ini aku melihatnya tertawa. Entah kenapa, perasaanku senang sekali melihat tawanya itu.
“nan himi deulddehmyun lucky in my life.. geudehga ggoom chuh lum daga onehyo..” Aku merogoh HP di tas mungilku. Di layar HP terpampang jelas nama “Oppa ^My Prince^ calling…”
“Yeoboseyo? Ne, oppa.. Iya, iya, aku akan pulang sekarang. Tunggu aku 20 menit lagi. Aku akan segera sampai. Iya, oppa.. Annyeong,” Aku menutup HPku, dan bergegas untuk pulang.

“Mianhaeyo, YunHo-ssi. Aku harus pulang sekarang. MinHo sudah menungguku.” jelasku.
“Boleh ku antar pulang?” YunHo menawariku jasa ‘antar-pulang’nya.
“Ne.. Gomawo..” jawabku.
Di dalam mobil, aku dan YunHo berbincang-bincang dengan seru, mulai dari hobi sampai pengalaman-pengalamannya. Sesaat aku merasa telah lama mengenalnya. Aku merasa sangat akrab dan dekat dengannya. Dia pun seperti mengerti diriku. Belum pernah aku merasa seperti ini denga norang lain selain MinHo. Apalagi baru sekitar sebulan aku mengenal YunHo. Tapi, perasaan apakah ini? Apa karena kami memiiki kesukaan yang sama sehingga aku merasa dekat dengannya? Atau aku memang pernah mengenalnya?

Sesampainya di rumah Ji Hee
YunHo memakirkan mobilnya di depan rumahku. Hari pun sudah gelap. Aku buru-buru ingin turun dari mobil sebelum MinHo menceramahiku karena baru pulang.
“Gomawo YunHo-ssi, sudah mengantarkaku sampai rumah.”
“Cheonmanaeyo,” jawabnya sambil tersenyum.
“Kalau begitu aku permisi dulu. Annyeong,”
“Tunggu, Ji Hee!” tiba-tiba YunHo menarik tangan kananku.
“Waeyo? Ada apa YunHo-ssi?” tanyaku heran.
“Ada yang ingin aku bicarakan. Ini sangat penting.”

“Ada masalah apa? Apa itu tentang kesehatanku?” tanyaku mulai cemas.
“Aniyo.. Ini bukan tentang kesehatanmu. Tapi tentang persaanku,”
Aku menatapnya heran. Perasaannya? Apa maksudnya?”
“Ji Hee-ah, apa benar kau tak ingat padaku?” YunHo duam sesaat. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. “Aku mencarimu, Ji Hee. Sudah sekian lama aku mencarimu. Hingga akhirnya aku dapat menemukanmu,” tutur YunHo. Perlahan air mata jatuh di pipinya.
Aku masih tidak mengerti. YunHo? Menangis? Ada apa sebenarnya? Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya tadi.
“Tae Hye.. aku mencintaimu. Dari dulu hingga sekarang aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku lagi, Tae Hye..”

Mwo? Tae Hye? Siapa dia? Aku tak mengenalnya.
“Tae Hye? Siapa?” tanyaku bingung.
“Tae Hye adalah kau. Dan kau adalah Tae Hye-ku. Gadis kecilku yang sangat aku cintai. Hingga sekarang pun aku tetap mencintaimu.”
“Aku? YunHo-ssi, kau tau aku ini Ji Hee. Bagaimana bisa kau beranggapan aku ini adalah Tae Hye?”
“Kau adalah Tae Hye. Sebelum kau kecelakaan dan hilang ingatan, kau adalah Tae Hye. Sadarkah, Tae Hye. Ingatlah padaku. Kumohon..” YunHo semakin kencang menangis dan tiba-tiba ia memelukku. Spontan aku melepasnya.
“Maaf, YunHo-ssi. Aku tidak paham maksudmu.” Aku langsung keluar dari mobil dan membanting keras-keras pintu mobilnya. Aku berlari ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang lagi.

Apa ini? Apa maksud YunHo berkata seperti itu? Benarkah aku ini adalah Tae Hye? Lalu apa hubungan YunHo dengan Tae Hye? Begitu banyak pertanyaan menggerogoti pikiranku. Seakan-akan otakku ingin meledak. Arrrggh.. Kepalaku sakit.. Sakit sekali.. Aku tak dapat melihat apa-apa. Disini sangat gelap.. Arrrggh.. Sungguh sakit sekali.. Tolong aku…

#YunHo POV#
Tae Hye.. Kau adalah Tae Hye-ku, Ji Hee. Aku sangat yakin itu. Akhirnya aku menemukanmu, Tae Hye. Selama 1 bulan ini aku mengecek semua kebenaran tentang Ji Hee. Awalnya aku hanya merasa kalau kau sangat mirip sekali dengan Tae Hye kecilku. Sampai akhirnya aku menemukan semua kesamaan dirimu dengan Tae Hye. Mulai golongan darah, DNA, sampai tamda lahir di telapak kaki kananmu.

Namun aku masih belum yakin dengan hal ini. aku masih terus melacak latar belakangmu. Hingga akhirnya aku menemukan fakta bahwa kau anak angkat keluarga Lee. Mereka mengadopsimu 12 tahun yang lalu di pulau Jeju. Tempat dimana Tae Hye mengalami kecelakaan maut bersama kedua orang tuanya. Dimana Tae Hye kehilangan kedua orang tuanya, karena mereka meninggal seketika pada saat kecelakaan itu.

Anehnya, kami menemukan jasad kedua orang tuamu. Tapi kami tidak dapat menemukan jasadmu. Aku selalu merasa bahwa kau masih hidup, dan aku terus mencarimu tanpa kenal lelah sampai selama 12 tahun ini. Akhirnya aku dapat menemukanmu, Tae Hye. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Seperti janjiku pada appamu dulu, aku akan selalu melindungimu selamanya.

Ji Hee-ah.. Kau adalah Tae Hye-ku..

>> To Be Continued <<

kommentnya teteup d tunggu oleh kami..
gomawo~ ^^

Read More......

Jul 18, 2009

[FF] Destiny Of Love #1

skitar 5 menit yg lalu, burut ngasih chat k mxit gw..
'niz, epepnya suruh d post d blog ktanya'
gag tau cpa yg request suruh post d blog,
tp saia ikuti aj kemauan burut tercintaah! *hueekz*
xP
baca en komet ya! WAJIB!!
*maksa mode on*

Destiny Of Love

Author ::
Park Tae Hee a.k.a Desy
Seo Ji Hye a.k.a Nisa


Cast ::
- Lee Ji Hee belongs to herself [dia adalah tokoh karangan kami, jadi keberadaannya hanyalah fiksi yang kami buat]
- Lee Min Ho belongs to himself
- Jung Yun Ho belongs to SM Entertainment
- Kim Sang Bum belongs to himself
and many more…

CHAPTER 1


Gelap… Sungguh sangat gelap…
Disini sangat gelap. Aku tak tau dimana ini. Yang ada hanya jalan lurus yang entah dimana aku dapat menemukan ujungnya. Aku hanya bisa berjalan terseok-seok karena kakiku terasa sangat berat. Bahkan aku harus menyeret kedua kakiku dan berpangku pada paha dan tanganku [‘ngesot’ maksudnya gituu]. Akh... aku sungguh sangat lelah.

“Omma, appa… Hiks hiks hiks… Jangan tinggalkan aku… Bangun omma, appa… Aku takut… Hiks hiks hiks… Ayo bangun…”
Akh… Lagi-lagi suara ini. Suara seorang gadis kecil yang sedikit familiar di telingaku. Tapi siapa? Aku tidak dapat mengingatnya. Lagipula darimana suara itu berasal? Sedikitpun aku tak dapat melihat apapun. Aku hanya melihat kegelapan. Yang ku tau, sekarang aku hanya perlu terus berjalan, mencari ujung jalan ini. Ya… Tapi, sampai kapan aku harus terus berjalan??

Akhh… Sakit… Sakit kepala ini muncul lagi. Sangat sakit. Akh… Tolong aku… Tolong….
“TIDDAAAAKK!!!”
Napasku menggebu-gebu dengan iringan detak jantungku yang kencang. “Akh… Mimpi ini lagi,” seruku dalam hati sambil meredakan napas dan mengumpulkan kesadaranku.

Setelah sedikit tenang, aku pun beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi. Namun pikiranku masih saja melayang ke mimpi-mimpi yang sudah menggangguku belakangan ini. Mungkin kalau dihitung-hitung, ini sudah yang ke-10 kalinya. Dan lagi aku masih belum tau arti dari mimpiku ini. Aissh, sungguh memusingkan saja.

* * * * * *


“Ji Hee-ah, kau sudah bangun? Kenapa pagi sekali? Dan lagi wajahmu sangat pucat,” sapa seorang lelaki tinggi, tampan dan tegap kepadaku. Dia langsung menghampiriku dan menyentuh keningku dengan punggung telapak tangan kanannya. “Mwo? Badanmu panas sekali! Apa kau sakit?” tanyanya padaku dengan wajah cemas, namun bagiku tidak sedikitpun menghapus ketampanannya.

“Oppa, aku tidak apa-apa,” selaku sambil menjauhkan tangannya dari keningku.
“Andwae.. Kau harus mengeceknya ke dokter. Aku akan menelepon temanku. Dia yang akan memeriksamu. Cepat kau ganti bajumu. Kita akan ke rumah sakit sekarang juga,” paksanya. Lalu dia mengeluarkan HP dari saku celananya dan mencoba untuk menelepon seseorang.

“Oppa, aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja. Kenapa harus ….”
“Ssstt… Kau jangan berisik. Cepat sana ganti bajumu! Ahh… annyeong, YunHo-ssi? Ini aku, MinHo …” Lelaki itu langsung berlalu dariku dan sibuk berbicara dengan seseorang yang diteleponnya itu.
Aku hanya pasrah dengan kelakuannya. Dia memang seperti itu sejak dulu, selalu membesar-besarkan hal yang tidak penting menurutku. Dia itu Lee MinHo, oppaku. Hanya dia satu-satunya keluargaku. Omma meninggal saat aku berusia 15 tahun karena penyakit paru-paru basahnya. Sedangkan appa sudah tiada semenjak aku dilahirkan. Setidaknya begitu, karena aku sendiri tidak dapat mengingat masa kecilku. Kata omma, aku mengalami kecelakaan saat aku berusia 7 tahun hingga menyebabkan aku hilang ingatan. Dulu keluarga kami sangat miskin jadi kami tidak mempunyai cukup uang untuk menyembuhkan lukaku waktu itu.

Tapi sekarang kehidupanku sudah jauh berbeda. Semenjak MinHo mendapat beasiswa di Universitas Kyunghee, kami berdua akhirnya menetap di Seoul dan mendapat kehidupan yang layak disini. Dengan kepintaran, kesopanan, dan keterampilannya, MinHo diangkat menjadi dokter di salah satu rumah sakit besar di Seoul. Dia memang sangat hebat. Semua orang suka padanya dan sangat mengaguminya, terlebih aku. Aku sangat menyayangi dan mencintainya sebagai seorang oppa dan seorang lelaki.

* * * * * *


Di rumah sakit…
“Oppa, kau sangat berlebihan. Sudah beberapa kali aku bilang aku baik-baik saja,” tegasku dengan wajah yang sedikit ku tekuk. Mungkin MinHo akan luluh jika aku sedikit merajuknya.
“Aniyo… Kau harus check up. Belakangan ini wajahmu pucat sekali, kau tau? Oppa itu selalu memperhatikanmu,” tegasnya sedikit membuat jantungku berdebar.

“Baik, aku akan mengikuti kemauan oppa. Biar oppa tau sendiri kalau aku ini baik-baik saja..”
“Ya, ya.. Setidaknya oppa akan lebih tenang jika kau sudah diperiksa oleh YunHo. Karena aku tau kalau dia adalah dokter terbaik disini.”
“YunHo? Aku belum pernah mendengar namanya. Apa dia dokter baru?” tanyaku sedikit aneh. Karena MinHo biasanya selalu menceritakan semua dokter-dokter yang ada disini, dan juga memperkenalkannya padaku. Namun seingatku tidak ada yang bernama YunHo.

“Dia teman lamaku saat masih kuliah dulu. Dia melanjutkan studynya di Jerman. Bahkan sudah menjadi dokter yang sukses disana. Sekitar dua minggu yang lalu, dia kembali ke Korea dan meninggalkan semua pekerjaannya di Jerman. Sekarang dia menjadi salah satu dokter disini. Aku sendiri tidak tau apa yang dipikirkannya. Dia meninggalkan semua kesuksesannya di Jerman untuk bekerja disini. Sungguh orang yang aneh,” ceritanya padaku. Aku sependapat dengannya. Memang sungguh orang yang aneh.

Aku dan MinHo disuruh menunggu di ruangan kerja YunHo. Katanya ia masih ada sedikit urusan. Aku jadi menduga-duga kalau dia itu orangnya membosankan, kelihatan tua, dan wajahnya sedikit keriput karena kebanyakan belajar. Hahahahaha…. Aku pasti tidak akan betah berlama-lama di dekatnya.
Tok.. Tok.. Tok.. Ceklek…

“Ahh... YunHo-ah…,” kata MinHo yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
“Hai, lama tidak bertemu,” sapa laki-laki itu di ambang pintu.
“Kau semakin tampan saja,” sahut MinHo. Dia pun berpelukan dengan laki-laki tampan itu. Memang dia sangat tampan. Tubuhnya gagah dan sangat elegan. Benarkah ini yang bernama YunHo? Berarti aku salah menilainya. Bahkan sangat jauh dari perkiraanku.

“Oh iya. Kenalkan, ini dongsaengku, namanya Lee Ji Hee. Ji Hee, kenalkan ini YunHo,” MinHo memperkenalkan aku padanya.
Pandangan YunHo berpindah ke arahku. Dia tampak sedikit terkejut saat melihatku. “Tae Hye-ah??” bisik YunHo pelan.

“Hah? Tadi kau bilang apa? Aku tidak dengar,” tanyaku padanya agar dia mengulang kembali ucapannya.
“Aniyo… Maafkan aku. Sekilas kau mirip sekali dengan teman kecilku. Tapi itu tidak mungkin,” sangkal YunHo dengan wajah memerah. “Hmm, manaseo bangapsumnida, Ji Hee-ssi..”
“Ne, bangapsumnida..” jawabku.

Perkenalan kamu berlangsung cukup cepat. Karena YunHo langsung mengajakku untuk mulai melakukan general check up. Sepanjang melakukan check up, YunHo hanya diam dan tak banyak bicara denganku. Bahkan hampir mengabaikan aku. Hmm, mungkin memang sifatnya seperti itu. MinHo tidak ikut bersama kami karena sibuk dengan pekerjaannya. Tapi dia berjanji padaku akan kembali jika dia sudah selesai. Akh, aku merasa sangat bosan disini.

* * * * * *


Pukul 15.00 WK [Waktu Korea]
Aku sudah selesai dengan rentetan check up yang sangat rumit dan menyebalkan itu. Sekarang aku ada di kantor MinHo, menunggunya selesai bekerja. Kantor MinHo sangat simple, hanya ada sedikit barang-barang miliknya. Aku tertarik dengan foto di mejanya. Itu adalah fotoku dengannya saat kami berlibur di pantai. MinHo terlihat sangat tampan di foto itu. Kalau saja dia bukan oppaku, aku pasti akan langsung melamarnya. Hahahaha… pabo! Mana mungkin itu terjadi.

“Ji Hee-ah.. Kau sudah lama menugguku,” seru MinHo dari belakangku. Aku kaget dan langsung terbangun dari lamunanku.
“Oppa, kau mengagetkanku saja,” seruku.
“Kau sedang apa? Kau melamun ya? Ayoo, ngaku! Kau melamunkan aku ya?” godanya sambil mencubit pipiku.
“Ani… Oppa, kau ini narsis sekali,” jawabku dengan cemberut, namun sebenarnya hatiku berdegup kencang.

“Memang kenapa? Aku malah sangat senang kalau kau benar-benar memikirkanku. Asal kau tau, aku pun juga selalu memikirkanmu,” Wajahnya menatap lurus padaku. Tidaaakk… Aku tidak bisa berpikir lagi. Wajahku pasti sudah seperti tomat merah. Sekarang, apa yang harus ku lakukan??

ojik no hanaman bogo dutgo shipun gol.. nae ane norul salge hago shipun gol..” Bunyi ringtone ‘My Everything’ dari HP MinHo telah menyelamatkanku dari serangan ‘tatapan mata’ MinHo.
“Yeoboseo, YunHo-ssi? Ada apa?” MinHo pergi menjauh dari hadapanku. Akh.. untung saja ada telepon. Kalau tidak, aku pasti akan pingsan dengan tatapannya itu.
“Ji Hee-ah, YunHo memberitahuku kalau hasil lab mu akan keluar tiga hari lagi,” kata MinHo.

“Hmm,” jawabku singkat.
“OK, sekarang kita pulang. Nanti oppa akan memasak makanan untukmu.”
“Siaapp!” jawabku excited.

* * * * * *


3 hari kemudian…
“Tiddaaaaakk!!!! Haah.. haahh.. haah.. haahh..” [ngos-ngosan maksudnya]
Mimpi ini lagi. Sudah beberapa minggu ini mimpi ini terus membayangiku. Belum lagi kepalaku menjadi sangat sakit. Bahkan kadang aku tidak dapat melihat saat sakit kepala ini menyerang. Aku merahasiakan ini dari MinHo. Aku tidak ingin membuatnya cemas. Karena bagiku dia sudah cukup sibuk dengan pekerjaannya.

Setelah mandi dan bersiap-siap, aku menuju ruang makan. Disana sudah ada MinHo yang menungguku di meja makan.
“Selamat pagi!” sapaku pada MinHo.
“Pagi! Cepat kau makan. Kita sudah ditunggu oleh YunHo pagi ini,” perintahnya.

Aku menghabiskan nasi goreng dan telur dadar yang dibuatkan oleh MinHo. Memang selalu dia yang memasak sarapan pagi. Makanan buatannya sangat lezat. Beruntung hanya aku yang memakannya. Jujur, aku tidak ingin berbagi dengan orang lain. Hehehehe… Betapa egoisnya diriku.

Di rumah sakit…
Seperti biasa, aku menunggu di kantor MinHo sementara dia pergi untuk menemukan YunHo. Entah karena angin apa, aku sangat penasaran dengan isi laci meja MinHo. Aku pun membuka laci itu pelan. Mataku langsung tertuju pada surat putih yang terlipat rapi di dalam sana. Aku pun memutuskan untuk melihat isi surat tersebut. Surat ini ditulis oleh MinHo. Aku bisa mengenali tulisan tangannya yang rapi dan indah. Perlahan aku mulai membuka dan membacanya.

To KimBum
Hai, apa kabar? Bagaimana kabar ahjuma? Pasti dia masih cerewet seperti dulu. Kau sudah selesai dengan studymu? Kapan kau mau mengunjungiku di Seoul? Aku tidak sabar ingin melihat wajahmu sekarang. Akh, sudah 7 tahun kita tidak bertemu. Pasti kau tambah tinggi sekarang.


“KimBum oppa??” pikirku. Aku pun mengingat-ingat 7 tahun yang lalu. Seorang pria yang dekat sekali dengan MinHo. Dia teman kecil MinHo. Sejak kami pindah ke Seoul, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi.

Kau tau? Sekarang perasaanku sungguh kalut. Aku kadang tidak bisa mengontrol emosi dan hasratku. Jika berada di dekatnya, selalu saja membuatku ingin memeluknya. Seakan-akan aku lupa dengan statusku sekarang. Dia telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Aku sungguh-sungguh mencintainya.


Jeggeeeerr!! Seakan-akan dunia runtuh dihadapanku. Tubuhku seakan bergetar kencang. Hatiku bagai terbelah menjadi dua. Siapa wanita itu?? MinHo mencintai seorang wanita? [ya iyalaah.. masa cowok?]. Kenapa aku tidak mengetahuinya? Entah aku harus senang atau sedih mengetahui oppaku mencintai orang lain. Tapi hatiku sekarang sangat sakit seperti ditusuk-tusuk oleh seribu jarum. Tanpa sadar mataku sudah memerah. Aku pun sudah tak sanggup membaca kelanjutan surat ini.

nan himi deulddehmyun lucky in my life.. geudehga ggoom chuh lum daga onehyo..” Akh.. HP-ku! “Yeoboseyo oppa? Ne oppa, aku akan segera kesana,” jawabku dengan suara yang sedikit parau. Namun aku mencoba biasa saja agar tidak menimbulkan kecurigaan.

MinHo meneleponku agar segera datang ke laboratorium. YunHo sudah menungguku disana. Selagi aku menuju lab, aku mencoba untuk menenangkan diri dan mencoba menghilangkan rasa sakitku. Selain itu, semenjak tadi kepalaku terasa sakit, walau tak sesakit tadi pagi. Aku masih dapat menahan rasa sakitnya. Aku berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Setelah berbelok kiri di ujung lorong ini, aku pun sampai di depan pintu laboratorium. Dengan terpaksa dan gugup, aku pun membuka pintunya. Ceklek!

“Ji Hee-ah, cepat masuk. Ada yang ingin aku tanyakan padamu,” seru YunHo setelah melihatku di ambang pintu. Aku berjalan melewati MinHo yang terduduk di kursi. Namun ia tidak menatapku.
“Apakah dulu kau pernah mengalami kecelakaan?” tanya YunHo dengan wajah serius.
“Ya, sekitar umur 7 tahun,” jawabku.

“Apa kau sering merasakan sakit di kepalamu akhir-akhir ini?” tanya YunHo lagi kepadaku tanpa mengubah ekspresi wajahnya itu.
“Hmm, ya. Sudah beberapa minggu kepalaku sakit. Bahkan akhir-akhir ini sakitnya makin parah,” jawabku jujur. Saat itu aku menoleh ka arah MinHo. Ia menatapku dengan penuh cemas dan sedih.
“Ini sungguh gawat! Penyakit yang di derita olehmu sangat serius. Namun aku belum yakin dengan hal ini,” kata YunHo dengan wajah yang lebih serius dan terlihat menyesal.

Wajahku menegang. Aku tak tau apa yang harus aku katakan. Sebegitu parahkah penyakitku ini?
“Apa itu, YunHo? Cepat beritahu aku!” seru MinHo dari belakangku. Aku menoleh untuk melihatnya. Wajahnya terlihat sangat kaget, melebihi aku. Dia telihat sedih campur marah. Aku takut. Belum pernah aku melihatnya seperti itu.

“Maafkan aku, mungkin aku salah. Tapi ini sudah aku cek berulang kali. Namun hasilnya tetap saja sama,” YunHo berhenti sejenak untuk menarik napas. “Ji Hee mengidap pembekuan otak stadium akhir.”

>>To Be Continued<<

kommentnya d tunggu yaa..
gomawo~ ^^

Read More......
 

~ DC Entertainment ~ Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez